Jumat, 03 Februari 2017

DEPRESI

Depresi termasuk dalam gangguan suasana perasaan (Mood Disorders). Suasana perasaan adalah rasa yang dialami oleh seseorang dan mempengaruhi perilaku dan persepsi seseorang dalam menghadapi lingkungannya. Afek merupakan ekspresi suasana perasaan yang tampak dari luar. Suasana perasaan bisa normal, meningkat atau tertekan. Pada orang yang sehat mereka dapat menguasai suasana perasaan mereka.
 
Depresi merupakan gangguan jiwa yang sudah dikenal sejak lama, bahkan beberapa tokoh dalam kitab suci beberapa agama menyebutkan adanya gangguan tersebut. Pada kitab perjanjian lama dalam Alkitab, Saul, seorang raja Israel sempat meminta pasukannya untuk membunuh dia karena kalah berperang dan dia mengalami rasa putus asa karena tidak ada anggota pasukan yang mau membunuhnya, maka raja Saul membunuh dirinya sendiri. Pada kitab agama Budha dikisahkan seorang putri raja yang bersedih karena putranya meninggal, putri tersebut membawa jenasah putranya ke mana-mana untuk menyembuhkan “sakit” putranya tersebut, kemudian seseorang membawa dia untuk bertemu dengan Budha, yang menyadarkan dia.
Depresi diasosiasikan dengan berbagai tipe gejala yang menampilkan gambaran yang berbeda pada tiap orang, gambaran ini bisa berupa gangguan fisik (misalnya gangguan tidur, anenergia, penurunan nafsu makan dan libido) gangguan emosi (mood yang turun, cemas dan mudah menangis) ataupun gangguan fungsi kognitif (rasa bersalah, rasa pesimis dan pikiran untuk bunuh diri)

1 EPIDEMIOLOGI
1.1 PREVALENSI
Depresi merupakan suatu keadaan yang umum dimana kemungkinan resiko orang akan mengalami gangguan ini seumur hidup adalah 15%. Depresi menyebabkan 1,3-4,4% dari seluruh angka disabilitas dan kematian yang prematur di seluruh dunia. Didapatkan juga tendensi bahwa baik pada pria maupun wanita umur onset terkena gangguan ini semakin muda, dan hal ini berkorelasi dengan peningkatan angka hospitalisasi dalam lingkungan remaja. 

1.2 JENIS KELAMIN
            Prevalensi seumur hidup untuk terkena Gangguan Depresi Mayor (Major Depressive Disorder/ MDD) adalah 1,6-3,1 kali lebih besar ditemukan pada wanita dibandingkan dengan pria. Penelitian yang dilakukan oleh Brown and Harris (1978), Kessler et al. (1998) dan Weissman et al. (1993) mengatakan bahwa depresi terjadi lebih banyak dua kali lipat pada perempuan dibandingkan laki-laki. Angka perbedaan ini dimulai pada masa pubertas dan seringkali juga ditemukan gejala depresi memberat  saat onset menstruasi. Beberapa hipotesa menghubungkan hal ini dengan perubahan hormon, stresor psikososial dan proses kehamilan sampai melahirkan. Akan tetapi perbedaan prevalensi ini menjadi menyempit (pada penelitian kohort yang dilakukan) pada usia yang lebih muda dan juga pada usia 50 -55 saat wanita memasuki periode menopause.
1.3 UMUR
            Umur rata-rata onset pasien mengalami depresi bervariasi antara 24 sampai 35 tahun dengan angka rata-rata 27 tahun.  Studi yang dilakukan oleh International Consortium of Psychiatric Epidemiology  mendapatkan bahwa umur  dari median onset awal  di seluruh negara adalah antara awal sampai pertengahan usia 30 tahun. Pada saat ini juga didapatkan bahwa 40% dari penderita depresi mengalami serangan depresi pertama mereka saat berusia mendekati 20 tahun, 50% mendapatkan episode pertama mereka saat berumur antara 20 -50 tahun dan sisanya sekitar 10% terjadi setelah umur 50 tahun.

1.4 STATUS PERNIKAHAN
            Kessler et al. (1997) mendapatkan pada sebuah survei yang dilakukan oleh National Comorbidity Survey (NCS) mendapatkan bahwa angka rata-rata depresi secara signifikan lebih rendah pada orang-orang yang menikah dan tidak pernah menikah dibandingkan dengan orang yang bercerai, berpisah ataupun menjanda.

2 PERJALANAN PENYAKIT DAN PROGNOSIS
            Sekitar separuh dari penderita depresi mengalami masa prodromal (cepat lelah, sakit dada ringan, sesak nafas ringan) yang muncul satu minggu atau bahkan satu tahun sebelum timbul gejala depresi. Episode  depresi pada kondisi ringan sampai sedang yang tidak tertangani dengan baik bisa bervariasi antara 4-30 minggu. Pada episode yang  berat perjalanan depresinya rata-rata 6-8 bulan. Sekitar 25% penderita depresi yang berat akan mengalami gejala lebih dari 12 bulan. Episode depresi yang tertangani dengan baik akan berlangsung rata-rata 3 bulan, menghentikan pengobatan depresi dalam waktu kurang dari 3 bulan hampir selalu akan memunculkan gejala kekambuhan.
            Pada kebanyakan pasien, gangguan depresi mayor bersifat kronis dan berulang-ulang. Dalam 6 bulan setelah remisi, sebanyak 25% akan mengalami kekambuhan, 58% akan kambuh dalam 5 tahun, dan 85% akan kambuh dalam 15 tahun setelah remisi. Individu yang mengalami 2 periode depresi mempunyai probabilitas sebesar 70% mengalami depresi ketiga dan bila mengalami tiga kali periode depresi  maka 90% akan mengalami kekambuhan.
            Sekitar dua per tiga pasien gangguan depresi mayor akan mengalami kesembuhan sempurna. Sepertiga sisanya mungkin akan sembuh sebagian ataupun tetap mengalami gejala. Individu depresi yang terus menerus mempunyai gejala sisa mempunyai resiko besar untuk kambuh kembali,  melakukan bunuh diri, mengalami penurunan fungsi psikososial dan peningkatan angka kematian yang disebabkan karena penyebab medis lain.  Sebagai tambahan sekitar 5-10% penderita yang mengalami episode depresi mayor akan mengalami episode mania ataupun campuran yang terindikasi sebagai gangguan bipolar.
2.1 BEBAN GANGGUAN DEPRESI
            Studi yang dilakukan oleh World Health Organization (WHO) yang dipublikasikan pertama kali pada tahun 1996 menunjukkan bahwa  depresi di seluruh dunia bertanggung jawab terhadap lebih banyak ketidakmampuan dibandingkan seluruh kondisi dan penyakit lain pada usia pertengahan.  Depresi menyebabkan ketidakmampuan yang bersifat substansial dalam fungsi sosial. Sebanyak 18%  pasien dengan depresi minor bermasalah dengan fungsi interaksi harian, sedangkan pada pasien yang mempunyai tujuh sampai sembilan gejala dari episode depresi mayor didapatkan angka sebesar 52%. Secara keseluruhan didapatkan bahwa depresi meningkatkan resiko disabilitas sosial sebanyak 23 kali lipat dalam populasi umum. Pasien depresi juga mempunyai resiko mortalitas dua kali lebih besar dibandingkan dengan populasi umum baik itu disebabkan karena penyebab langsung  yaitu bunuh diri ataupun penyebab tidak langsung yang disebabkan karena penyakit-penyakit lain. Resiko bunuh diri pada pasien depresi meningkat sebesar 26 kali lipat. Akan tetapi prevalensi pasien depresi untuk bunuh diri adalah 2,2%. Angka bunuh diri yang berhasil dilakukan oleh pasien depresi dilaporkan hanya 1%.
            Pasien depresi mempunyai resiko 1,8 kali lebih besar untuk mengalami gangguan kesehatan yang lain dalam waktu 1 tahun setelah terdiagnosis.  Beberapa fakta menunjukkan pasien depresi yang menjalani rawat inap dan mempunyai komorbid penyakit kardiovaskular memiliki peningkatan resiko untuk mengalami infark miokard dan kematian setelah atau dalam waktu 10 tahun paska rawat inap.
            Pada tahun 2000, gangguan depresi adalah penyebab utama disabilitas di negara berkembang dan merupakan penyebab ke empat disabilitas di seluruh dunia. Depresi memberikan kontribusi 12% dari seluruh usia disabilitas di seluruh dunia. WHO memprediksi bahwa pada tahun 2030 depresi merupakan penyebab kedua terbesar disabilitas seluruh dunia, setelah HIV/AIDS.
            Dalam perhitungan produktivitas kerja, pasien depresi mempunyai kecenderungan tiga sampai empat kali untuk mengambil cuti karena sakit.
            Biaya dari gangguan depresi yang sangat mengejutkan berasal dari kombinasi biaya terapi depresi, mortalitas yang prematur dan pengurangan produktivitas serta angka ketidakhadiran. Greenberg dan rekan (1996) memperkirakan biaya per tahun yang ditimbulkan oleh gangguan depresi di Amerika Serikat diperkirakan sekitar US$ 53 bilyun.
            Individu dengan gejala-gejala depresi yang tidak terdiagnosis sebagai gangguan depresi, memakai lebih banyak pelayanan pengobatan dan mencoba bunuh diri lebih sering dibandingkan dengan pasien yang terdiagnosis episode depresi mayor. Di Amerika pasien yang terdiagnosis depresi dan mendapatkan pembedahan membutuhkan waktu 10 hari lebih lama dibandingkan pasien yang tidak mengalami depresi akan tetapi pasien dengan gejala-gejala depresi yang tidak terobati membutuhkan waktu perawatan 26 hari lebih lama dibandingkan dengan pasien yang tidak mengalami depresi.

2.2 PATOGENESIS
            Patofisiologi  pasti dari gangguan depresi mayor masih belum diketahui, tetapi dari segi etiologi diasumsikan bahwa penyebabnya adalah hal yang heterogen karena diagnosa gangguan depresi mayor hanya bersifat deskriptif dan mengandung beberapa gejala yang saling berkaitan. Faktor biologi, psikologis dan sosial semuanya berpengaruh terhadap gangguan depresi mayor.



2.2.1 GENETIK
            Studi keluarga menunjukkan bahwa setidaknya terdapat peningkatan dua sampai tiga kali resiko untuk mengalami gangguan depresi mayor pada relasi tingkat pertama, biasanya onset usianya lebih muda dan mempunyai resiko untuk terjadinya depresi yang rekuren. Sebuah studi di Skandinavia mendapatkan bahwa saudara kandung lebih besar kemungkinan untuk mengalami depresi dibandingkan dengan saudara adopsi. Studi yang membandingkan tentang anak kembar monozigot dan dizigot berhasil memisahkan antara pengaruh genetik dengan faktor lingkungan dalam hal resiko timbulnya depresi, ditemukan dari studi ini bahwa pembawa sifat genetik depresi secara independen berkisar antara 33-70%.  

Hasil yang konsisten dari berbagai macam studi ini mengindikasikan adanya dasar substansi genetik dari episode depresi mayor.  Dr. Tan Chay Hoon (2009) mengatakan bahwa  faktor genetik berperan dalam depresi, stres yang berat akan mempresipitasi depresi pada mereka yang mempunyai predisposisi genetik.   Pada depresi yang tidak terlalu berat, faktor genetik tidak terlalu berperan dibandingkan dengan faktor lingkungan. Petanda genetik yang potensial berperan untuk gangguan afektif telah ditemukan pada kromosom X, 4,5, 11, 18 dan 21, sebagai contoh dua dari petanda yang diperkirakan pada lengan panjang kromosom 5 mengandung gen yang  memberikan kontribusi untuk reseptor nor epinefrin, dopamin, GABA dan glutamat. Sebuah studi yang dilakukan oleh Marc Caron, Xiaodong Zhang dan kolega di Universitas Duke menemukan tentang gen yang mengalami mutasi, gen ini mengkode enzim otak yaitu tryptophan hydroksilase-2 yang berfungsi untuk menghasilkan serotonin, didapatkan hasil terjadi pengurangan produksi enzim ini sebesar 80%, sehingga dengan sendirinya serotonin yang dihasilkan juga berkurang.
2.2.2 NEUROKIMIAWI
            Hipotesa  monoamin sudah menjadi dasar teori depresi sejak 50 tahun yang lalu, didasarkan pada observasi mekanisme kerja obat-obat anti depresi yang bekerja dengan cara mengeblok penghantar serotonin, yang hasilnya adalah peningkatan ketersediaan neurotransmitter pada celah sinaps.  Hipotesa ini mendalilkan bahwa depresi merupakan hasil dari ketidakseimbangan serotonin (5-HT), nor adrenalin maupun dopamin  pada beberapa area otak.
                Stresor eksternal meningkatkan produksi corticotrophin releasing hormones di hipotalamus yang bekerja pada reseptor spesifik, contohnya pada jalur adrenocorticotrophin di glandula pituitari dan lokus coeruleus. Pada binatang coba yang hidup dalam lingkungan yang penuh stres dengan konsekwensi tingkat glukokortikoid yang tinggi menunjukkan gambaran depresi, penurunan tingkat brain derived neurotrophic factor (BDNF) dan didapatkan adanya atrofi saraf di hipokampus.

2.2.3 NEUROANATOMI
Maclean (1949) dan Phillips et al (2003) mengatakan bahwa untuk mengerti tentang patofosiologi dari gangguan mood, di samping struktur neurokimiawi juga harus dipertimbangkan  interaksi struktur neuroanatomi dari sistem emosi otak. Struktur yang dimaksud adalah sistem limbik, sirkuit emosi dan kognitif yang mempunyai hubungan dengan gangguan mood terdiri dari beberapa area yaitu korteks prefrontal, girus cinguli, amigdala, hipokampus, insula, ventral striatum dan thalamus.           Menurut Sapolsky (1996), Watanabe et al. (1992) teori neuroplastisitas mengatakan bahwa struktur daerah tertentu pada otak terutama  hipokampus  akan dipengaruhi oleh berbagai macam bentuk variasi dari stres lingkungan. Lebih lanjut pada studi yang dilakukan Campbell et al. (2004), Sheline at al. (1999) menggunakan structural imaging mendapatkan adanya asosiasi antara depresi dengan pengurangan volume hipokampus. Ballmaier et al. (2004) menemukan adanya pengurangan volume substantia grisea di daerah anterior cinguli, girus rectus dan korteks orbitofrontal. Pada studi post mortem yang dilakukan terhadap otak dari pelaku bunuh diri dibandingkan dengan kontrol didapatkan adanya perbedaan pola ekspresi cortico-releasing hormone pada beberapa struktur limbik yaitu pada korteks orbitofrontal dan anterior cinguli.

2.2.4 NEUROENDOKRINOLOGI
Aksis Hipotalamus, pituitari dan adrenal sudah sejak lama dikenal berhubungan dengan gangguan depresi mayor. Efek biologi dari stres di mediasikan dengan cara pelepasan  corticotropin releasing factor/hormone yang menyebabkan peningkatan sekresi adrenocorticotropin hormone dan peningkatan dari glukokortikoid. Peningkatan jumlah glukokortikoid akan mengubah sensitivitas reseptor noradrenergik dan sekresi glukokortikoid. Dalam waktu lama akan menyebabkan efek neurotoksik terutama pada pada neurogenesis di hipokampus, Bukti lebih jauh menunjukkan pada studi yang dilakukan terhadap pasien gangguan depresi mayor didapatkan bahwa : 
1). Menurut Carroll et al. (1981) terdapat peningkatan kadar kortisol pada plasma, cairan serebro spinal dan urin             
2). Menurut Sachar et al. (1970), tidak terdapat umpan balik yang diharapkan pada pemberian dexamethasone suppression test
3). Menurut Holsboer (2003) dan Plotsky et al. (1998) terdapat peningkatan corticotropin releasing hormone (CRH) pada cairan serebro spinal
4). Menurut  Rubin et al. (1995) dan Wolkowitz et al. ( 2001) terdapat hipertrofi kelenjar adrenal yang bersifat reversibel        
Menurut Rubin (1989) aksis hipotalamus, pituitari dan tiroid juga memegang peranan penting. Diperkirakan seperempat pasien dengan gangguan mood juga mempunyai kegagalan fungsi tiroid. Bardy dan Anton (1989), Joffe (1999), Joffe dan Marriott (2000), Rao et al (1996) menemukan bahwa jika terjadi hipofungsi dari aksis hipotalamus, pituitari dan tiroid akan memberikan respon yang jelek terhadap terapi antidepresan, dan menurut Joffe dan Marriott (2000) dapat juga menyebabkan depresi yang rekuren.  
Pada pria fungsi Aksis Hipotalamus, pituitari dan gonad akan menurun sesuai dengan usia. Morales et al. (2000) mengatakan bahwa “andropause” bertanggung jawab terhadap banyak tanda-tanda penuaan pada pria diantaranya disfungsi ereksi, pengurangan masa tubuh, perubahan konsistensi kulit, osteoporosis, peningkatan lemak viseral dan berbagai masalah neuropsikiatri seperti rasa lelah, penurunan libido, depresi, iritabel, insomnia dan gangguan memori.  Morley  (2001), Vermeulen (2003) mendapatkan bahwa di antara para androlog terdapat sebuah konsensus bahwa terapi sulih testosteron akan meningkatkan suasana perasaan. Studi yang dilakukan oleh Orengo et al. (2005), Pope et al. (2003) menemukan bahwa penambahan testosteron terhadap terapi antidepresan menjanjikan hasil yang baik.
Pada wanita, estrogen meningkatkan suasana perasaan  dengan fungsinya pada susunan saraf pusat yaitu meningkatkan transmisi monoamin dan peningkatan sensitivitas terhadap serotonin. Data terkini menyokong fungsi terapi sulih estrogen ataupun augmentasi estrogen terhadap terapi antidepresi pada pasien yang resisten terhadap terapi akan dapat memperbaiki suasana perasaan.

2.2.5 NEUROPSIKOLOGI
            Fungsi kognitif dan memori akan mengalami defisit pada pasien depresi, terutama pada fungsi atensi selektif dan explicit (working) memory dan juga didapatkan defisit dalam fungsi penyimpanan (storage) jangka panjang dan pencarian kembali (retrieval) dari memori juga didapatkan gangguan dalam memilih strategi dan memonitor kemampuan.

            Hipokampus terlibat secara kritis dalam pembentukan memori, sebagai bagian dari sirkuit saraf yang terlibat dalam pemrosesan informasi, pembentukan emosi dan memori yang ditampilkan. Volume hipokampus pada pasien depresi berkurang terutama pada pasien dengan depresi yang kronis dan berulang, ataupun pada pasien yang mempunyai riwayat trauma.

2.2.6 SISTEM IMUN
            Pada pasien depresi mayor ditemukan bukti-bukti adanya respon imun innate yang teraktivasi yang ditandai dengan peningkatan biomarker-biomarker inflamasi yaitu sitokin imun innate, protein fase akut, chemokines dan molekul adhesi.  Pemberian sitokin imun innate pada hewan coba dan manusia menginduksi perubahan perilaku yang secara signifikan bertumpang tindih  dengan kriteria gejala depresi. Sitokin imun innate mempengaruhi secara jelas setiap area patofisiologi yang berhubungan dengan depresi termasuk neurotransmisi monoamin, fungsi neuroendokrin, plastisitas sinaps dan metabolisme otak regional. Pada pasien dengan depresi resisten terapi menunjukkan bukti-bukti adanya peningkatan proses inflamasi. Salah satu bukti lagi menunjukkan bahwa pemberian anti sitokin pada pasien dengan gangguan inflamasi dapat mengurangi gejala depresi.   

2.2.7 FAKTOR LINGKUNGAN DAN KEJADIAN DALAM HIDUP  
            Depresi seringkali terjadi setelah stressor psikososial yang besar terutama pada episode depresi yang pertama atau kedua, sebagai contoh masalah hubungan interpersonal, masalah ekonomi ataupun masalah perumahan yang tidak layak, pengalaman masa kanak seperti penyalahgunaan ataupun penelantaran anak, kehilangan orang tua dan dukungan sosial yang tidak memadai, perasaan rendah diri, kepribadian obsesif, pola pikir negatif yang bersifat maladaptif terhadap diri sendiri dan orang lain secara umum merupakan faktor-faktor resiko yang terdapat pada pasien depresi. Kejadian yang sangat berat dalam kehidupan serta timbulnya distorsi kognitif meningkatkan resiko efek depresi pada orang yang mempunyai muatan genetik untuk timbulnya depresi. Penemuan ini memberikan gambaran bahwa kejadian di sekitar kita, meskipun terjadi pada masa yang lampau akan dapat mempengaruhi fungsi neurobiologi dalam waktu yang lama dan hal ini akan mempunyai implikasi pada terapi. Beberapa studi menunjukkan bahwa pasien dengan episode depresi mayor yang mempunyai riwayat trauma masa kanak akan memberikan respon yang lebih baik pada penambahan psikoterapi dibandingkan dengan terapi antidepresi tunggal.
            Kessler (1997) menyimpulkan bahwa hubungan antara kejadian dalam hidup dengan depresi adalah :
1.      Terdapat asosiasi yang konsisten antara paparan kejadian hidup dengan onset  depresi mayor.
2.      Besar permasalahan dari asosiasi ini bervariasi dengan bagaimana cara menghadapinya, asosiasi menjadi kuat apabila gambaran spesifik dari pengalaman hidup yang penuh dengan stres selalu diperhitungkan.
3.      Asosiasi antara kejadian hidup dengan depresi meberikan hasil yang konsisten, kejadian hidup yang berat akan berasosiasi dengan depresi mayor dibandingkan dengan kejadian yang tidak terlalu berat.
4.      Kejadian dalam hidup seringkali terjadi pada masyarakat umum dan pada kebanyakan pasien depresi kejadian hidup yang penuh stres terjadi tepat sebelum onset depresi mereka.
3 GAMBARAN KLINIS DAN DIAGNOSIS
            Gambaran klinis pasien depresi bisa meliputi beberapa tipe gejala yang berbeda-beda, gambarannya bisa berupa gangguan fisik (tidur, energi, nafsu makan, libido), emosi (mood yang rendah, kecemasan, menangis) ataupun fungsi kognitif (rasa bersalah, pesimis, pikiran bunuh diri)
Klasifikasi dan Diagnosis depresi berdasarkan PPDGJ III :
F32  EPISODE DEPRESIF
·         Gejala Utama (pada derajat ringan, sedang dan berat) :
-          Afek depresif
-          Kehilangan minat dan kegembiraan, dan
-          Berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah (rasa lelah yang nyata sesudah kerja sedikit saja) dan menurunnya aktivitas
·         Gejala lainnya
(a)    Konsentrasi dan perhatian berkurang
(b)   Harga diri dan kepercayaan diri berkurang
(c)    Gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna
(d)   Pandangan masa depan yang suram dan pesimistis
(e)    Gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri
(f)    Tidur terganggu
(g)   Nafsu makan berkurang
·         Untuk episode depresif dari ketiga tingkat keparahan tersebut diperlukan masa sekurang-kurangnya 2 minggu untuk penegakan diagnosis, akan tetapi periode lebih pendek dapat dibenarkan jika gejala luar biasa beratnya dan berlangsung cepat.
·         Kategori diagnosis episode depresif ringan (F32.0), sedang (F32.1) dan berat (F32.2) hanya digunakan untuk episode depresi tunggal (yang pertama). Episode depresif berikutnya harus diklasifikasi di bawah salah satu diagnosis gangguan depresif berulang (F33.)
Tabel berikut berisi istilah untuk memberikan gambaran pasien depresi singkatan yang dipakai : SIGECAPS
Gejala Depresi
Gambaran Klinis
Sleep
Insomnia atau hipersomnia
Interest/pleasure
Berkurang (anhedonia)
Guilt
Peningkatan, pikiran waham/irasional
Energy
Berkurang
Concentration
Berkurang, ragu ragu, mudah terpengaruh
Appetite
Berkurang atau bertambah
Psychomotor activity
Gelisah atau melambat
Suicide
Pikiran, rencana atau melakukan

4. MANAJEMEN KLINIS/ TERAPI



            Manajemen klinis depresi melibatkan berbagai hal berikut yaitu penilaian secara teliti, menciptakan kerja sama terapi, memilih pengobatan yang bersifat evidence based, pengamatan hasil akhir dan mengikuti perkembangan secara tepat. Terapi depresi sendiri mempunyai 2 fase yaitu akut dan pemeliharaan. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa pasien tidak hanya sembuh melainkan selalu dalam keadaan sehat.    
Terapi yang diberikan dapat berupa :

1.       Farmakoterapi berupa obat obat antidepresi yang didalamnya meliputi antidepresi golongan baru yaitu Selective Serotonin Reuptake Inhibitor (SSRI), Allosteric Serotonin Reuptake Inhibitor (ASRI), Serotonin and Noradrenalin Reuptake Inhibitor (SNRI) dan agen reseptor lain yang sekarang merupakan pillihan utama karena keamanan dan lebih mudah ditoleransi dibandingkan dengan obat-obat antidepresi generasi pertama yang meliputi Trisiklik dan Monoamine Oxidase Inhibitor (MAOI).
2.      Terapi Intervensi baik menggunakan alat atupun tidak. Meliputi terapi deprivasi tidur, olah raga, terapi cahaya terapi elektrokonvulsi, stimulasi magnet transkranial berulang dan tindakan pembedahan menggunakan teknik neuromodulasi  yaitu stimulasi nervus vagus dan deep brain stimulation.   

3.      Psikoterapi didalamnya meliputi problem solving therapy, cognitive behavior therapy, interpersonal psychotherapy dan cognitive behavioral analysis system of psychotherapy , pada depresi berat diindikasikan untuk melakukan kombinasi antara farmakoterapi dengan psikoterapi. Sekian..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar